Spread the love

Loading

Klikbangsa.com (Jakarta) – Dukungan Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia kepada Sudirman Said bak gayung bersambut. Hari ini (1/6) Sudirman Said menyempatkan diri menyabangi kanto Rekan Indonesia di daerah Pejaten Barat, Pasar Minggu.

Hal ini disampaikan oleh ketua nasional Rekan Indonesia, Agung Nugroho melalui siaran persnya yang disampaikan kepada media.

Agung menjelaskan tujuan Sudirman Said sabangi kantor Rekan Indonesia tidak lebih hanya silaturahmi dan sharring tentang kondisi dan situasi kesehatan di Jakarta.

“Pak Dirman bilang silaturahmi karena saya adalah teman seperjuangan serta sharring terkait kesehatan di Jakarta” cerita Agung.

Dalam sharringnya kepada Sudirman Said, Agung menngungkapkan bahwa Jakarta saat ini menuju kota global sejak menjadi daerah khusus Jakarta. Sebagai kota global tentu Jakarta harus di tata lebih teknokratik agar dapat terwujud smart city. Dan Jakarta dituntut dapat mengurangi beban masalah yang ada.

Di bidang kesehatan misalnya, Jakarta masih memiliki problem yang belum terselesaikan diantaranya pembangunan upaya reventif dan promotif kesehatan secara konkrit.

“Karena preventif dan promotif kesehatan merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia di Jakarta, warga yang sehat meningkatkan kualitas SDM kotanya” ungkap Agung.

Agung menyatakan selama ini Jakarta hanya berfokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif saja, dengan anggaran yang cukup besar dan tidak cukup untuk menanggung pembiayaan pengobatan dan pemulihan. Sementara preventif dan promotif tidak serius dibangun.

“Padahal mencegah dan mengedukasi warga agar paham bagaimana membangun lingkungan yang sehat dimulai dari tempat tinggalnya itu sangat penting untuk mencegah penyakit dari hilir” Jelas Agung.

Agung juga mengungkapkan juga masih belum bisa menghapus stunting, padahal dengan APBD sebesar Rp 81 T lebih, seharus Jakarta mampu mengentaskan stunting.

Agung menunjukan bahwa pada tahun 2022 saja prevalensi balita stunting di Jakarta masih cukup tinggi, yakni 14,8 persen. Sementara dari September sampai Oktober 2023 di Jaksel saja angka anak bermasalah dengan gizi cukup besar yaitu 1.225 anak bermasalah gizi.

Pemerintah Jakarta ke depan harus memiliki mitigasi dan skema pengentasan stunting yang jelas, misalnya untuk pencegahannya harus di mulai sejak pra nikah. Dimana calon ibu mendapatkan edukasi bagaimana menjaga keseimbangan makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi dan penataan lingkungan tempat tinggal warga agar sesuai dengan standar hidup sehat, apalagi di Jakarta masih banyak perkampungan kumuh.

“Masih terdapat 445 RW kumuh di DKI Jakarta yang perlu di tata sehingga indeks kesehatan warga bisa meningkat, apalagi saat ini Jakarta punya target 200 RW kumuh dapat di tata dengan baik” ungkap Agung.

Dengan problem kesehatan di Jakarta tersebut, Agung mengatakan bahwa Jakarta butuh pemimpin yang bersih, memiliki kemampuan manajemen yang kuat dan kemampuan mengesekusi permasalah dengan cepat dan tegas.

“Tiga kemampuan itu hanya dimiliki oleh Sudirman Said, itu bisa dilihat dari pengalamannya sebagai Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh, menteri ESDM dan Sekjend PMI” jelas Agung.

Saat di BRR, Sudirman Said berhasil membatalkan proyek bermasalah sebesar 157 Miliar Rupiah. Selain itu BRR juga berhasil menjalankan proses rekonstruksi Serambi Mekkah itu dengan sukses sekaligus efektif.

BRR juga dikenal sebagai lembaga yang bersih dan bebas dari segala macam praktik korupsi, terbukti RS dan Puskesmas hasil rekontruksi infra struktur di Aceh masih berdiri kokoh karena di bangun sesuai spesifikasi yang diperuntukan.

Saat menjadi menteri ESDM, Sudirman Said berhasil memotong jalur peijinan tambang yang berbelit-belit dan banyak menghabiskan biaya menjadi lebih ringkas, efektif dan tidak lagi berbiaya tinggi.

Begitu pun saat menjadi Sekjend PMI, Sudirman Said berhasil memperbaiki sistem manajemen PMI menjadi lebih rapi, ringkas dan modern.

(M.NUR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *