Spread the love

Loading

 

klikbangsa.com  Jakarta , 30 Juni 2025 – Center for Market Education (CME)  resmi merilis kajian kebijakan terbarunya bertajuk “Beyond Price Stability: The Role of Monetary Policy for Sustainable Growth and Social Welfare”. Karya ini ditulis oleh Dr Carmelo Ferlito , seorang ekonom senior, CEO CME, dan pengajar di Universitas Prasetiya Muliya, Kajian lengkapnya dapat diunduh gratis melalui tautan: Policy Paper No.7- CME.

Dalam kertas kebijakan ini, Dr. Ferlito mengkritik pendekatan moneter konvensional yang terfokus semata pada pengendalian inflasi. Menurutnya, paradigma sempit ini mengabaikan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan sosial, bahkan berisiko menimbulkan gelembung aset,  misalokasi sumber daya, dan ketidakstabilan sistemik — sekalipun dalam kondisi inflasi rendah.

Menantang Status Quo: Suku Bunga Bukan Sekadar Alat Inflasi

Ferlito mengajak para pengambil kebijakan untuk meninjau ulang peran suku bunga. Ia memperkenalkan tiga jenis suku bunga:

  • Originary Rate (OR): mencerminkan preferensi waktu masyarakat—konsumsi sekarang atau nanti.
  • Market Rate (MR): hasil interaksi penawaran dan permintaan modal.
  • Central Bank Rate (CBR): ditentukan oleh bank sentral sebagai bagian dari kebijakan moneter.

Pertumbuhan yang sehat, menurut Ferlito, terjadi saat MR = OR—yakni ketika keputusan tabungan dan investasi benar-benar murni tanpa distorsi kebijakan.

Lebih dari Sekadar Stabilitas Harga

Ferlito menegaskan bahwa stabilitas harga bukan satu-satunya indikator kesehatan moneter. Ia mengidentifikasi tiga bentuk kekacauan moneter, mengacu pada teori dari ekonom seperti Thomas Palley

  1. Inflasi harga konsumen — bentuk yang paling umum, namun bukan satu-satunya.
  2. Ketidakstabilan nilai tukar — fluktuasi atau depresiasi tajam mata uang.
  3. Gelembung harga Aset— lonjakan tak wajar harga saham atau properti yang tak didukung fundamental ekonomi.

Ketiganya sering dipicu oleh kombinasi suku bunga artifisial, ekspansi kredit tak terkendali, dan kebijakan fiskal agresif.

Kajian ini menawarkan tiga langkah reformasi utama:

1.Menghapuskan CBR (Central Bank Rate)

    1. Alasan: CBR bersifat artifisial dan merusak sinyal pasar.
    2. Tujuan: Membiarkan pasar menentukan suku bunga alami yang mencerminkan preferensi waktu masyarakat.
    3. Dampak: Sinkronisasi tabungan dan investasi serta mengurangi siklus boom-bust buatan.

2.Menata ulang batasan kredit bank komersial

    1. Penekanan pada pengukuran agregat moneter yang mencakup pinjaman bank.
    2. Cadangan wajib harus mempertimbangkan dana eksisting yang dimiliki peminjam sebelum permohonan kredit.

3.Reformasi peran bank sentral berbasis aturan

    1. Beralih dari kebijakan diskresonner ke sistem yang stabil dan berbasis aturan, terinspirasi dari pemikiran Wicksell dan Taylor Rule Fokus pada penciptaan iklim institusional, bukan pengaturan variabel nyata seperti lapangan kerja.
    2. Mengakui keterbatasan pengetahuan teknokrat dan membiarkan tatanan ekonomi terbentuk lebih organik.

Menutup kajiannya, Ferlito menyerukan pendekatan yang lebih rendah hati dalam merancang kebijakan ekonomi: alih-alih mengendalikan segala hal dari balik meja, saatnya memberi ruang bagi mekanisme pasar berjalan secara alami. Ia percaya, dengan membebaskan kebijakan moneter dari intervensi yang tak menentu dan mengembalikannya pada prinsip-prinsip klasik yang membumi, Indonesia dapat menuju ekonomi yang lebih stabil, terbuka, dan manusiawi.

 

 

Elvida MS

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *