![]()
Klikbangsa.com Jakarta – Alih-alih menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat yang hidup dan representatif, Pasar Kwitang Dalam kini menjelma menjadi potret kelam kegagalan pengelolaan pasar oleh Pemprov DKI Jakarta. Di bawah pengelolaan Pasar Jaya—perusahaan pelat merah yang seharusnya menjamin kenyamanan dan kelayakan fasilitas pasar—justru terhampar ironi yang menyayat mata.
Pantauan langsung klikbangsa.com memperlihatkan fakta yang sulit disangkal: bangunan semi permanen yang terbengkalai, atap rusak, kios-kios yang membusuk tak terurus, hingga gerobak reyot berserakan menjadi pemandangan sehari-hari. Bagian atas bangunan tampak seperti proyek gagal- dinding bata dibiarkan telanjang, atap baja ringan belum rampung, jendela menganga tak berdaun, dan sekelilingnya dihiasi seng berkarat yang sobek di sana-sini.
Yang lebih menyedihkan, spanduk bertuliskan “Jakarta Kota Global dan Berbudaya” terpampang mencolok di tengah kehancuran visual dan fungsional pasar. Slogan tinggal slogan. Realitasnya, ini adalah pasar mati yang jadi korban ambisi tak terwujud dan kebijakan yang setengah hati.
“Sebelumnya ramai, sekarang seperti bangunan hantu. Pedagang banyak yang pindah karena nggak layak lagi,” ujar seorang warga yang memilih tidak disebutkan namanya.
Pasar Jaya bungkam. Pemprov DKI Jakarta seakan tak bergeming. Tak ada kejelasan soal masa depan pasar ini, padahal revitalisasi sudah dijanjikan sejak bertahun-tahun lalu dan kabarnya memakan anggaran hingga puluhan miliar rupiah. Sayangnya, yang tersisa hanya tumpukan semen dan janji politik yang membeku di antara seng berkarat.
Apakah ini wajah nyata dari ‘Jakarta Kota Global’? Atau sekadar kamuflase untuk menutupi buruknya tata kelola fasilitas rakyat?
Jika kondisi ini dibiarkan, Pasar Kwitang Dalam tak lebih dari monumen kemunafikan birokrasi dan kegagalan kebijakan urban di tengah jargon-jargon megah yang kehilangan makna.
Arimanto
