Spread the love

Loading

klikbangsa.com ( Jakarta) – Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia menggelar Diskusi Publik bertema “Kolaborasi Dalam Upaya Pengentasan Penyakit Mematikan di Jakarta Utara” pada Kamis (4/6/2026) di Ruang Fatahillah, Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor kesehatan, mulai dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, jajaran puskesmas, hingga RSUD kecamatan, sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tingginya beban penyakit tidak menular di wilayah tersebut.

Kegiatan ini dipandu oleh Ketua KPW REKAN Indonesia DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan, yang menekankan bahwa penanganan penyakit mematikan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi yang solid antara pemerintah, tenaga kesehatan, BPJS Kesehatan, dan masyarakat.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, dr. Murniasi Hutapea, MPH, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif REKAN Indonesia dalam menghadirkan ruang dialog kesehatan yang terbuka dan partisipatif.

“Kami mengapresiasi Relawan Kesehatan Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.”

Dalam pemaparannya, dr. Murniasi menyoroti masih tingginya ancaman penyakit tidak menular, terutama diabetes melitus yang kerap disebut sebagai silent killer karena berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

“Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat memicu berbagai komplikasi pada organ tubuh. Ketika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang, dampaknya bisa berupa kerusakan pembuluh darah, peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, hingga amputasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kunci utama dalam menekan dampak penyakit tersebut adalah pencegahan dan penanganan sejak dini.

“Deteksi dini, pengobatan yang teratur, serta pola hidup sehat menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Utara, Yayak Nugroho, memaparkan bahwa sejumlah penyakit masih menjadi penyebab utama beban kesehatan masyarakat, di antaranya penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi, kanker, stroke, dan tuberkulosis (TB).

Menurutnya, sebagian besar penyakit tersebut baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap lanjut akibat minimnya kesadaran terhadap gejala awal.

“Penyakit-penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi, kanker, stroke, hingga tuberkulosis membutuhkan perhatian serius. Banyak kasus baru teridentifikasi saat kondisi sudah cukup berat karena gejala awal sering tidak disadari masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengendalian penyakit silent killer sangat bergantung pada upaya pencegahan yang konsisten.

“Deteksi dini, pemeriksaan kesehatan rutin, kepatuhan pengobatan, dan penerapan pola hidup sehat adalah kunci utama. Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang untuk dikendalikan dan mencegah komplikasi yang lebih berat,” tegasnya.

Yayak juga menekankan bahwa upaya pengentasan penyakit mematikan harus dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

“Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen untuk memperkuat edukasi kesehatan, memperluas akses layanan, dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.

Melalui diskusi ini, REKAN Indonesia berharap terbentuk penguatan jejaring kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas layanan kesehatan, BPJS Kesehatan, organisasi masyarakat, dan warga dalam upaya menekan angka penyakit mematikan di Jakarta Utara. (Faresi) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *