Spread the love

Loading

Klikbangsa.com  Balige  -Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Toba menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kajian Akhir Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana Tahun 2025–2026. Kegiatan berlangsung di Hall Sinar Minang, Balige, pada Selasa (9/12/2025).

Kajian ini mencakup sembilan jenis potensi bencana, yaitu gempa bumi, likuefaksi, tanah longsor, banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan ladang, kekeringan, serta kegagalan teknologi.

Dalam paparan PT Artek Utama selaku pihak penyusun dokumen, seluruh kecamatan di Toba berpotensi terdampak bencana. Namun untuk kegagalan teknologi, risiko diprediksi hanya terjadi di Kecamatan Laguboti, Parmaksian, dan Pintu Pohan Meranti.

Hasil kajian merekomendasikan langkah antisipasi melalui dua pendekatan: generik dan spesifik.
Rekomendasi generik meliputi:

  • penguatan kebijakan dan kelembagaan,
  • pengkajian risiko dan perencanaan terpadu,
  • pengembangan sistem informasi,
  • peningkatan diklat dan logistik,
  • peningkatan efektivitas pencegahan dan mitigasi,
  • penguatan kesiapsiagaan dan penanganan darurat,
  • pengembangan sistem pemulihan bencana.

Rekomendasi spesifik mencakup mitigasi fisik seperti penanaman pohon berakar dalam, menjaga mutu bangunan, rehabilitasi daerah tangkapan air, serta pembangunan dan pemeliharaan jalur sekat bakar di batas hutan.

Sementara mitigasi non fisik diantaranya adalah penguatan koordinasi dengan BMKG untuk peringatan cuaca ekstrem, pelarangan pembakaran hutan, pembentukan tim siaga bencana, serta langkah-langkah lainnya.

Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, menegaskan bahwa pemahaman terhadap bencana adalah hal utama.

“Hal paling penting adalah pemahaman kita terkait bencana. Bagaimana kita menghadapi bencana. Jangan kita yang tadinya harus mengatasi namun justru memperburuk suasana,” ujarnya.

Ia meminta agar seluruh camat, kepala desa, dan lurah memiliki dan memahami dokumen kajian tersebut sebagai panduan ketika terjadi bencana.

Sistem Pertolongan Perlu Diperbaiki

Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga, menyampaikan bahwa alam bersifat netral dan kejadian bencana dapat berasal dari faktor alam maupun kesalahan manusia.

“Yang tidak bisa kita kendalikan adalah alam itu sendiri. Jadi kita yang harus menyesuaikan diri dengan alam,” katanya.

Kapolres juga menyoroti pola penyelamatan korban bencana yang dinilainya kurang tepat.

“Selama ini kita lebih fokus menangani yang mati, padahal pada waktu yang sama ada yang masih selamat dan butuh pertolongan. Seharusnya kita utamakan menolong yang selamat.”

Ketua DPRD Toba, Franshendrik Tambunan, menyampaikan keprihatinan atas kondisi hutan di Toba yang disebut sudah masuk kategori kritis. Ia meminta para camat memerintahkan kepala desa melakukan pendataan hutan yang kritis di wilayah masing-masing.

“Jika butuh penanaman, sampaikan proposal ke Inalum atau Badjra untuk mendapat bibit pohon,” ujarnya.

Franshendrik mengingatkan bahwa ancaman banjir dan longsor harus ditangani sejak dini.

“Kalau tidak kita tangani dari sekarang, maka kita pasti akan mengalami seperti yang dialami oleh para tetangga kita.”

Kegiatan FGD ini diharapkan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Toba.

Elvida MS

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *