Spread the love

Loading

klikbangsa.com Lumban Julu -Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, kembali menjadi pembicara dalam kegiatan sosialisasi perlindungan terhadap anak yang digelar di SMP Negeri 2 Lumban Julu, Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa yang berbaris di halaman sekolah. Mengawali kegiatan, Wakil Bupati Toba terlebih dahulu berbagi cerita singkat tentang masa sekolahnya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merupakan alumni SMP Negeri 2 Lumban Julu dan menceritakan kondisi serta desain bangunan sekolah pada masa ia menempuh pendidikan di sana.

Usai bernostalgia, Wakil Bupati kemudian menyampaikan materi tentang perlindungan anak dengan menegaskan bahwa anak merupakan harta paling berharga, bukan hanya bagi orang tua, tetapi juga bagi negara.

“Anak-anak kami, kalian adalah aset paling berharga, bukan hanya di tengah keluarga tetapi juga bagi bangsa ini. Karena itu negara menerbitkan Undang-Undang Perlindungan Anak, dan Pemerintah Kabupaten Toba juga telah memiliki Perda tentang perlindungan anak,” ujarnya.

Menurut Audi Murphy, masa depan bangsa berada di tangan generasi muda saat ini, sehingga setiap anak harus mampu menghargai dan menjaga dirinya sendiri.

“Bagaimanapun, kalianlah yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini. Karena begitu berharganya kalian, maka kalian juga harus bisa menghargai diri sendiri,” katanya.

Dalam sosialisasi tersebut, Wakil Bupati menjelaskan bahwa tujuan perlindungan anak adalah untuk melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, maupun kekerasan seksual.

“Kekerasan fisik adalah tindakan penganiayaan yang dapat merusak atau mengganggu tubuh seseorang. Sedangkan kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengganggu kejiwaan, seperti bullying atau perundungan,” jelasnya.

Namun demikian, Audi Murphy juga menegaskan bahwa tidak semua tindakan fisik dapat dikategorikan sebagai kekerasan. Ia mencontohkan tindakan pendisiplinan oleh guru yang bertujuan mendidik, bukan menyakiti.

“Guru itu sama seperti dokter. Dokter membedah perut seseorang bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menyembuhkan. Begitu juga guru, jika menjewer atau memukul betis karena kenakalan, tujuannya agar anak menjadi lebih baik,” terangnya.

Terkait kekerasan seksual, Wakil Bupati mengingatkan para siswa bahwa pelaku tidak selalu orang asing, tetapi bisa saja orang terdekat, bahkan anggota keluarga sendiri.

“Jangan membiasakan tubuh kalian dipegang orang lain, termasuk bagian tubuh yang ditutupi pakaian. Jika ada yang berbuat demikian, langsung tolak,” tegasnya kepada para pelajar.

Sosialisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya perlindungan diri serta keberanian untuk menolak dan melaporkan segala bentuk kekerasan.

Elvida MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *