Spread the love

Loading

Klikbangsa.com (Jakarta) Mei 2025 – Suara perlawanan menggema kembali dari jantung sejarah perjuangan bangsa. Ratusan guru besar dan dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) berkumpul di Kampus Salemba, Jakarta, menyalakan kembali bara idealisme demi menyuarakan kekhawatiran mendalam atas politisasi pendidikan kedokteran dan kesehatan di Indonesia.

Di gedung tua yang menjadi saksi lahirnya Boedi Oetomo, gejolak Malari, hingga Reformasi 1998, para pendidik dan praktisi kesehatan lintas generasi menyerukan satu hal: bahaya mengancam kualitas pendidikan kedokteran bila dikendalikan penuh oleh kekuasaan politik.

“Ketika pendidikan profesi tunduk di bawah kepentingan politik dan dikendalikan pejabat setingkat menteri, yang dipertaruhkan bukan sekadar mutu, tetapi nyawa rakyat,” tegas dr. Roy Tanda Anugrah Sihotang, MARS, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Medis dan Kesehatan Indonesia (FSPMKI) dan aktivis Dema STOVIA-KA KBUI 98.

Para guru besar yang hadir, banyak di antaranya telah memasuki usia senja, datang bukan untuk seremoni, tetapi untuk memperingatkan. Mereka menyuarakan kekhawatiran terhadap degradasi mutu pendidikan kedokteran yang akan berdampak langsung pada keselamatan pasien dan masyarakat luas. Dalam sistem yang terlalu sering berubah mengikuti arah politik kekuasaan, pendidikan bisa menjadi ladang eksperimen, dan rakyat menjadi korbannya.

“Lihat bagaimana pendidikan menengah kita berganti arah setiap kali menteri berganti. Kini, bayangkan kekacauan serupa terjadi dalam pendidikan dokter dan tenaga kesehatan,” ujar dr. Roy. “Ini bukan sekadar soal kurikulum atau teknis belajar, ini soal nyawa manusia.”

Seruan ini bukan tanpa alasan. Di tengah upaya percepatan pembangunan sumber daya manusia di sektor kesehatan, muncul kekhawatiran bahwa langkah-langkah percepatan justru mengabaikan standar dan kualitas yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Pendidikan kedokteran yang selama ini dijaga ketat dari intervensi politik, kini menghadapi ancaman keterlibatan kekuasaan secara langsung.

Momen ini pun mengingatkan pada 27 tahun silam, saat suara reformasi bergema dari kampus-kampus. Hari ini, suara serupa kembali terdengar dari Salemba—bukan untuk menumbangkan rezim, tetapi untuk menyelamatkan masa depan profesi dan kesehatan rakyat.

“Ini bukan tentang politik praktis, ini tentang tanggung jawab moral dan profesi. Tentang cinta pada tanah air, dan pada rakyat yang setiap hari kami rawat,” ujar dr. Roy menutup orasinya.

Alarm telah dibunyikan dari Salemba. Kini saatnya penguasa belajar mendengar.

Faresi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *